February 2015
S M T W T F S
« Mar    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
Recent Comments
materi kuliah

mouse ialah prangkat input komputer yang sering digunakan. Kita lebih tahu bahwa bagian mouse yang kiri untuk memilih suatu pernyataan atau menu. lalu bagaimana untuk orang-orang yang kidal? tenang berikut cara mengganti fungsi “klik” bagi orang-orang kidal :)

1. klik kiri pada start kemudian pilih kontrol panel

2. mouse

3. pada botton configuration diberi tanda centang

4. kemudian di apply

untuk lebih jelasnya bisa di lihat pada gambar. semoga bermaanfaat :)tugas

green algae

What are algae?
The term ‘algae’ is used for some lower plants and many, often unrelated groups of microorganisms that are able to perform photosynthesis.

Photosynthesis (converting light energy into chemical energy) is performed in parts of the cell called chloroplasts. They can be found in different shapes and colours and in many different organisms. Not all these organisms are green. Diatoms, Chrysophytes and dinoflagellates have yellow to brown chloroplasts. There are brown algae (Phaeophyta), red algae (Rhodophyta) and many other groups of unicellular algae in many shades of green. The blue green Cyanobacteria also photosynthesize.

A very diverse groups of freshwater algae are the Chlorophytes or Green algae. Based on the compounds of the photosynthetic pigments and several other characteristics they seem closest related to plants.

A common green algae is Hydrodictyon, the water net. It is a related to Pediastrum (top image) But it forms a bag-shaped colony. Like Pediastrum each individual cell can develop into a new colony. You can imagine that since the colony contains thousands of cells Hydrodictyon can reproduce very rapidly. And unlike Pediastrum, Hydrodictyon can grow large, almost 30 cm. in length. Blooms of Hydrodictyon can be a real problem for water treatment plants.

The image shows a part of a small colony (left) and three individual cells of a big colony. Inside each of these cells a new colony can be formed.

Sumber : http://www.microscopy-uk.org.uk/mag/indexmag.html?http://www.microscopy-uk.org.uk/mag/wimsmall/green.html

Cercospora apii

The genus Cercospora is one of the largest and most heterogeneous genera of hyphomycetes. Cercospora species are distributed worldwide and cause Cercospora leaf spot on most of the major plant families. Numerous species described from diverse hosts and locations are morphologically indistinguishable from C. apii and subsequently are referred to as C. apii sensu lato. The importance and ecological role that different hosts play in taxon delimitation and recognition within this complex remains unclear. It has been shown that Cercospora leaf spot on celery and sugar beet are caused respectively by C. apii and C. beticola, both of which are part of the C. apii complex. During this study we characterized a new Cercospora species, C. apiicola, which was isolated from celery in Venezuela, Korea and Greece. The phylogenetic relationship between C. apiicola and other closely related Cercospora species was studied with five different gene areas. These analyses revealed that the C. apiicola isolates cluster together in a well defined clade. Both C. apii and C. beticola sensu stricto form well defined clades and are shown to have wider host ranges and to represent distinct species.

sumber: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16894973

pelatihan sabtu pagi

palatihan sabtu pagi di cyber padi

PERTANIAN DI INDONESIA

Pertanian di Indonesia sedang berada di persimpangan jalan. Sebagai penunjang kehidupan berjuta-juta masyarakat Indonesia, sektor pertanian memerlukan pertumbuhan ekonomi yang kukuh dan pesat. Sektor ini juga perlu menjadi salah satu komponen utama dalam program dan strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Di masa lampau, pertanian Indonesia telah mencapai hasil yang baik dan memberikan kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk menciptakan lapangan pekerjaan dan pengurangan kemiskinan secara drastis. Hal ini dicapai dengan memusatkan perhatian pada bahan-bahan pokok seperti beras, jagung, gula,dan kacang kedelai. Akan tetapi, dengan adanya penurunan tajam dalam hasil produktifitas panen dari hampir seluruh jenis bahan pokok, ditambah mayoritas petani yang bekerja di sawah kurang dari setengah hektar, aktifitas pertanian kehilangan potensi untuk menciptakan tambahan lapangan pekerjaan dan peningkatan penghasilan.

Walapun telah ada pergeseran menuju bentuk pertanian dengan nilai tambah yang tinggi, pengaruh diversifikasi tetap terbatas hanya pada daerah dankomoditas tertentu di dalam setiap sub-sektor. Pengalaman negara tetangga menekankan pentingnya dukungan dalam proses pergeseran tersebut. Sebagai contoh, di pertengahan tahun 1980-an sewaktu Indonesia mencapai swasembada beras, 41% dari semua lahan pertanian ditanami padi, sementara saat ini hanya 38%; suatu perubahan yang tidak terlalu besar dalam periode 15 tahun. Sebaliknya, penanaman padi dari total panen di Malaysia berkurang setengahnya dari 25% di tahun 1972 menjadi 13% di 1998. Selain itu seperti tercatat dalam hasil studi baru-baru ini, ranting pemilik usaha kecil/ pertanian industrial, hortikultura, perikanan, dan peternakan, yang sekarang ini berkisar 54% dari semua hasil produksi pertanian, kemungkinan besar akan berkembang menjadi 80% dari pertumbuhan hasil agraris di masa yang akan datang. Panen beras tetap memegang peranan penting dengan nilai sekitar 29% dari nilai panen agraris. Tetapi meskipun disertai dengan tingkat pertumbuhan hasil yang tinggi, panen beras tidak akan dapat mencapai lebih dari 10% nilai peningkatan pertumbuhan hasil.
Tantangan bagi pemerintahan yang baru adalah untuk menggalakan peningkatan produktifitas diantara penghasil di daerah rural, dan menyediakan fondasi jangka panjang dalam peningkatan produktifitas secara terus menerus. Dalam menjawab tantangan tersebut, hal berikut ini menjadi sangat penting:

1. Fokus dalam pendapatan para petani; titik berat di padi tidak lagi dapat
menjamin segi pendapatan petani maupun program keamanan pangan;

2. Peningkatan produktifitas adalah kunci dalam peningkatan pendapatan petani, oleh karena itu pembangunan ulang riset dan sistem tambahan menjadi sangat menentukan;

3. Dana diperlukan, dan dapat diperoleh dari usaha sementara untuk memenuhi kebutuhan kredit para petani melalui skema kredit yang dibiayai oleh APBN;

4. Pertanian yang telah memiliki sistem irigasi sangat penting, dan harus dipandang sebagai aktifitas antar sektor. Pemerintah perlu memastikan integritas infrastruktur dengan keterlibatan pengguna irigasi secara lebih intensif, dan meningkatkan efisiensi penggunaan air untuk mencapai panen yang lebih optimal hingga setiap tetes air;

5. Fokus dari peran regulasi dari Departemen Pertanian perlu ditata ulang. Kualitas input yang rendah mempengaruhi produktifitas petani; karantina diperlukan untuk melindungi kepentingan petani dari penyakit dari luar namun pada saat yang bersamaan juga tidak membatasi masuknya bahan baku impor; dan standar produk secara terus menerus ditingkatkan di dalam rantai pembelian oleh sektor swasta, bukan oleh pemerintah.

Selain merupakan tanggung jawab pemerintah, kita juga sebagai mahasiswa perlu membantu agar Indonesia tidak sampai mengalami kekurangan bahan pangan. Dengan menerapkan ilmu-ilmu yang kita peroleh dan sosialisasikan kepada petani, kemungkinan besar Indonesia tetap bias menjanga swasembada pangan yang telah di capai

NI KOMANG TRI ARTINI EKA PUTRI

G34110002

LASKAR 33

Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Bookmarks